Bantaeng Persiapkan Ekspor Bunga ke Korea

Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah (Kanan) menyimak lebih dekat bunga Krissan yang dikembangkan Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantaeng di Bantaeng, Senin (8/3) Bunga yang bisa bertahan 15 hari itu berpeluang untuk mengisi ekspor bunga ke Korea. (F

Berita Terkait
Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Selain talas, biji kapuk dan hasil perikanan, Kabupaten Bantaeng kini mempersiapkan ekspor bunga ke Korea jenis krissan dan tulip.

Kedua jenis bunga itu kini dikembangkan di Balai Benih Hortikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantaeng di Kecamatan Ulu Ere. Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah ketika meninjau lokasi pengembangan bunga tersebut, Senin, berharap, masyarakat di sekitar desa itu turut mengembangkan tanaman berwarna-warni tersebut.

Bupati yang didampingi Kadis Pertanian dan Kehutanan Ir HM Akil Reza serta Kepala Seksi Pengembangan Produksi Hortikultura (Perlintan) dan Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) Ir Moch Kamrah dan Kepala Instalasi Kebun Benih Hortikultura Loka, Ir Badawi mengatakan, untuk memantapkan posisi sebagai penghasil bunga, masyarakat diharap serius menjadikan kawasan tersebut menjadi Kampung Bunga.

"Insya Allah kalau kita serius, tanaman ini akan mendatangkan penghasilan yang lebih baik untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat," terang Bupati yang berharap lahan di sekitar kawasan Balai Benih dapat dimanfaatkan dengan baik.

Kepada petugas lapangan Dinas Pertanian juga diminta lebih rajin melakukan penataan agar terjadi variasi sebab bunga krissan bisa bertahan 15 hari di dalam vas bunga.

Menurut Bupati, untuk tahap awal, bunga berbagai warna ini akan memasok kebutuhan bunga kota Makassar. Kebutuhan bunga ibukota provinsi Sulsel itu selama ini dipasok dari Surabaya, Jawa Timur.

"Bila kebutuhan bunga di Kota Makassar sudah tepenuhi, atau produksi kita bisa meningkat drastis, ekspor ke Korea juga bisa dilakukan sebab negara itu membutuhkan banyak bunga jenis krissan," urainya.

Untuk pengembangan kepada masyarakat, Bupati mengajak Camat dan Kepala Desa lebih berperan mengajak masyarakat menanam bunga. "Bibit bunga krissan selama ini masih didatangkan dari Jawa, sedang bibit tulip dibawa langsung Bapak Bupati dari Belanda," jelas Badawi.

Bibit krissan yang dikembangkan sebanyak 3.000 dan kini sudah berkembang menjadi 5.000-an, sedang  bunga dari Belanda (tulip) yang dikembangkan dalam "green house" bersama anggrek dan tanaman hias lainnya hasil kerjasama Koica Korea dan Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng itu kini baru tumbuh.

Untuk membantu pengembangan ke masyarakat,  Pemerintah Daerah (Pemda) akan terus mendukung dan menyiapkan infrastruktur hingga menjadi pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pegunungan.

Selain pengembangan bunga jenis krissan dan tulip, di kawasan milik Dinas Pertanian dan Hortikultura tersebut juga dikembangkan tanaman strawberry. Penanaman di dalam fasilitas green house tersebut menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding penanaman di alam terbuka.

"Penanaman di dalam green house lebih baik karena penyiramannya teratur dan penyakitnya juga dideteksi sehingga berkembang lebih baik dibanding strawberry milik masyarakat yang ditanam di area terbuka," tambah Moch Kamrah. (T.KR-RY/F003)
   

Editor: Daniel
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasulsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar