Kupang (ANTARA News) - Mantan Wakil Panglima Pejuang Integrasi (PPI) Eurico Guterres mengimbau para pengusaha Indonesia tidak tergiur dengan ajakan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao untuk berinvestasi di wilayah bekas jajahan Portugis itu.
"Menyesal karena telah membuang banyak waktu, tenaga, dan anggaran besar sementara apa yang dijanjikan seperti jaminan keamaman, regulasi yang memadai, dan infrastruktur yang tersedia hanya diangan-angan saja," katanya di Kupang, Minggu.
Ia mengatakan hal itu menanggapi ajakan Xanana ketika berkunjungan ke Atambua, Kabupaten Belu, 18-19 Agustus lalu, agar pengusaha Indonesia tidak segan-segan mengembangkan usaha jasa konstruksi dan usaha lain di Timor Leste sebagai bentuk konkretisasi dari hubungan dagang dan ekonomi bilateral.
Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao mengajak pengusaha asal Indonesia untuk mengembangkan usaha di Timor Leste guna memperkokoh hubungan bilateral kedua negara di bidang ekonomi dan perdagangan.
"Kalau Filipina, Jepang, China, dan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik yang letaknya jauh dari Timor Leste, saat ini berusaha dan menanamkan modalnya di negara baru itu, mengapa Indonesia negara tetangga terdekat tidak tertarik melakukan hal yang sama di Timor Leste," katanya ketika bertemu pengusaha dari Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara di Atambua.
Menurut Xanana setelah merdeka selama kurang lebih 11 tahun, yang dilakukan pertama selain penataan kembali hubungan ke dalam dan luar negeri, negara baru ini juga berkonsentrasi memperbaiki dan menyiapkan infrastruktur dan sarana-prasarana serta fasilitas lain yang berhubungan penamaman modal.
Dia lantas menyebutkan sarana dan prasarana itu, antara lain jalan, air, listrik, dan telepon. Xanana memberi kepastian kepemilikan hak atas tanah, termasuk mempromosikan produk-roduk unggulan ke luar negeri untuk menarik investor ke wilayah itu.
"Hasilnya mulai tampak saat ini meskipun belum sesukses seperti di negara-negara lain, termasuk di Indonesia," katanya.
Mengenai jaminan keamanan dan regulasi serta kebijakan lain yang dipertanyakan para pengusaha dalam dialog itu, Xanana mengatakan tidak ada masalah.
Khusus untuk regulasi bagi pengusaha telah disiapkan dan segera akan disosialisasikan kepada para pengusaha melalui Konsul Diplomatik Timor Leste yang ada di Kupang untuk pengusaha lokal yang ada di wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.
Menurut Eurico, seorang pengusaha selalu berusaha untuk mendapatkan uang sebanyak lewat berbagai peluang yang ada. Namun, khusus menyangkut ke Timor Leste, mungkin perlu dipertimbangkan lagi, mengkaji berbagai aspek pendukung sukses, dan lancarnya sebuah usaha.
Ia menyebut seorang pengusaha lokal atau investor asing sekalipun aspek pertama yang dilihat sebelum memutuskan untuk menanamkan modal usahanya di tempat dan negara lain adalah faktor keamanan, ketersediaan infrastruktur, sarana dan prasarana penunjang, kepastian hukum atas lahan usaha, dan masih banyak lagi yang lain.
Dalam kaitan dengan Timor Leste apakah seorang pengusaha yang profesional sudah mempertimbangkan ketersediaan sejumlah faktor tersebut di negara baru itu.
"Saya yakin pengusaha Indonesia, terutama yang ada di sekitar perbatasan, seperti di Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara, paling mengetahui dan memahami maksud saya ini. Dan, ini bukan bentuk provokasi, tetapi sekadar bentuk peringatan sebelum memutuskan untuk ke Timor Leste," katanya.
Ia mengatakan jangan melihat satu atau orang pengusaha asal Indonesia atau negara lain--konon kabarnya--sukses di sana, lantas ramai-ramai menyerbu Timor Leste untuk mengembangkan usaha di sana, belum tentu seperti diperkirakan atau dipikirkan.
"Bagaimana negara yang baru kemarin dimerdekakan lantas lebih sukses dari Indonesia. Itu omong kosong besar sehingga saya menyarankan pengusaha Indonesia lebih banyaklah membangun daerah dan bangsa sendiri dulu karena akan lebih besar makna dan nilainya dari pada ingin membangun daerah atau bangsa lain," katanya.
Jangan karena uang, harta, dan kedudukan, orang Indonesia lantas harus gadaikan harga diri dan nasionalisme sejatinya untuk membangun di daerah atau negara lain.
"Saya sangat mendukung rencana pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar APBN 2011 harus mandiri atau tidak tergantung pada utang luar negeri atau mengimpikan modal dan tenaga dari negara lain untuk membangun bangsa dan negara ini," katanya.
Bahwa keberadaan negara maju lain di dunia sangat penting artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan perekonomian bangsa Indonesia. Namun, tidak berarti harus mengemis, apalagi menggadaikan nasionalisme bangsa hanya untuk sebuah kesenangan sementara.
Menurut Ketua DPW PAN Nusa Tenggara Timur ini, pengusaha atau apa pun profesi yang digeluti warga bangsa Indonesia harus bangga bahwa terus berkarya dan memperbaiki bangsa sendiri untuk terus maju, ketimbang membangun daerah atau bangsa lain karena sifatnya semu.
"Saya mengatakan hal ini karena sudah mengalami langsung, bagaimana saya harus masuk penjara selama dua tahun di LP Salemba, karena bukti cintaku untuk Merah Putih, untuk Indonesia dan untuk nasionalisme terhadap NKRI," katanya.(T.pso-084/D007)
Eurico Imbau Pengusaha tak Tergiur Ajakan Xanana
COPYRIGHT © 2010
Baca Juga
- Pendeta : Kenaikan Kristus Bernuansa Religi dan Budaya
- Maklon dan Obsesi Tenunan Sepanjang 65 Meter
- KPU TTU Siap Tanggapi Permintaan Presiden
- Syahbandar Imbau 56 Kapal Ikan tidak Beroperasi
- Pengamat : Ubah Perencanaan di Provinsi Berbasis Kepulauan
- Gempa 5,0 SR Terjadi di NTT
- Bandara El Tari Mulai Dipadati Penumpang
- Puncak Mudik Bandara El Tari Diperkirakan H-4

















