Makassar (ANTARA News) - United States Agency for International Development (USAID) mengharapkan pemerintah daerah dapat melanjutkan program Decentralized Basic Education 2 (DBE2) dengan melakukan program replikasi terhadap sekolah-sekolah di wilayah lain yang belum tersentuh program.

"Masih banyak yang bisa dikembangkan, pemda bisa menjalankan program replikasi dengan orang, materi dan metode yang dinilai telah sukses dalam program ke sekolah-sekolah yang belum disentuh," kata Koordinator Program DBE2 Provinsi Sulawesi Selatan Davis Ehrman di Makassar, Senin.

Pihaknya melaporkan program-program pengembangan sistem pendidikan melalui komponen DBE satu, dua dan tiga di sembilan wilayah di Sulsel segera berakhir tahun ini. Khusus DBE3 yang diperuntukkan bagi jenjang pendidikan SMP dan SMA berakhir bulan ini.

"Kami harapkan pada penutupan program daerah tetap melanjutkan kegiatan dan melebarkan dampak melalui replikasi, didanai pendanaan lokal misalnya APBD, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau dana program pendidikan gratis provinsi," jelasnya.
Menurut dia dalam program DBE2 pada jenjang pendidikan TK dan SD perubahan sistem pendidikan yang cukup siginifikan adalah perencanan proses belajar dan mengajar guru.

"Pada awalnya banyak guru tidak punya perencanaan, sekarang guru-guru yang telah dilatih program, 90 persen telah memiliki perencanaan," katanya.

Selain itu, dampak lainnya adalah perubahan lingkungan sekolah dan kelas yang lebih kondusif penggunaan alat peraga murah, lebih banyak kegiatan membaca di kelas dan anak-anak diperbolehkan meminjam buku untuk membacanya di rumah bersama orang tua.

Program DBE satu, dua dan tiga, katanya, menggunakan dana hibah dari warga Amerika sebanyak 150 juta dolar Amerika untuk tujuh provinsi termasuk Sulsel. Di Sulsel program ini dijalankan sejak 2005 di sembilan kabupaten dan kota yaitu Palopo, Luwu, Enrekang, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Makassar, Pangkep dan Jeneponto di 161 sekolah.
Program lainnya yang dijalankan dalam sekolah-sekolah binaan adalah program membaca di kelas, memberikan buku ke setiap sekolah binaan, melatih guru menggunakan buku non teks.

"Hal ini untuk menghidupkan budaya membaca. Anak-anak tidak dipaksa membaca tapi karena ingin membaca apalagi buku yang dibaca bisa dibawa pulang," tambahnya.

USAID juga melibatkan Universitas Negeri Makassar dan Universitas Muhammadiyah melalui paket pelatihan pengembangan profesionalisme guru.

Ia optimistis, jika pemerintah daerah melakukan replikasi dampak perkembangan program akan lebih besar dibandingkan hasil yang telah dicapai selama program berjalan. (T.KR-RY/Z003)