Kupang (ANTARA News) - Australian Agency for International Development (AusAID) akan memberikan bantuan dana sebesar dua juta dolar Australia untuk mendukung pelaksanaan Program Desa Mandiri Anggur Merah (Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera) di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bantuan dalam bentuk penguatan pendamping dan kepala desa itu akan diberikan selama dua tahun yakni mulai 2012-2013, kata Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya, di Kupang, Selasa terkait dukungan lembaga internasional terhadap Program Desa Mandiri Anggur Merah.

Program itu diluncurkan Pemerintahan Frans Lebu Raya-Esthon Foenay mulai tahun 2011. Program ini digalakkan pertama pada 287 desa/kelurahan di NTT atau satu kecamatan satu desa.

Setiap desa/kelurahan diberikan suntikan dana sebesar Rp250 juta dari APBD NTT untuk usaha-usaha ekonomi produktif.

Pada setiap desa ini pula ditempatkan salah satu petugas yang direkrut pemerintah sebagai pendamping kelompok masyarakat di desa.

Gubernur menjelaskan, bantuan dana dari AusaID itu akan difokuskan pada pelatihan-pelatihan bagi para Pendamping Kelompok Masyarakat (PKM) dan kepala-kepala desa pada desa-desa yang menjadi sasaran pelaksanaan program Anggur Merah.

Bantuan tersebut kata Gubernur karena lembaga internasional tersebut pernah melakukan survei terhadap pelaksanaan program ini di lapangan dan mereka sangat mengagumi para pendamping dan kepala desa yang memiliki dedikasi yang sangat tinggi dan bekerja dalam membantu masyarakat membentuk usaha-usaha ekonomi produktif.

Padahal, para petugas yang direkrut Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada awal 2011 lalu tidak memperoleh pelatihan dan pendidikan yang memadai untuk menjadi motivator di lapangan, kata Lebu Raya.

"Jadi bantuan ini karena AusaID merasa kagum dengan pendamping yang memiliki dedikasi sangat tinggi dan mereka bekerja sangat keras untuk membantu masyarakat untuk hidup mandiri. Ini sangat berbeda dengan pendamping-pendamping program lain," katanya.

Inilah yang mendorong AusaID untuk mengalokasikan dana yang cukup besar untuk memberikan dukungan terhadap program ini, katanya.

Ketua Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi NTT, Wayan Darmawan secara terpisah mengatakan, selain AusaID ada juga lembaga internasional lainnya yang sudah menyatakan keinginan untuk memberikan dukungan terhadap Program Desa Mandiri Anggur Merah.

Dukungan ini karena lembaga internasional menilai Program Desa Mandiri Anggur Merah ini memiliki orientasi yang sangat jelas dalam membantu masyarakat desa keluar dari lilitan kemiskinan dan kemelaratan.

Orang-orang desa diberikan uang dalam jumlah banyak untuk memulai usaha ekonomi produktif dan ini tidak pernah dilakukan oleh daerah manapun termasuk pemerintah pusat.

"Lembaga-lembaga internasional memandang perlu program ini bisa diadposi untuk dilaksanakan di daerah lain di tanah air karena rakyat diberikan hak penuh untuk mengelola uang dalam jumlah besar dan mereka bisa hidup mandiri di masa yang akan datang," kata Wayan.

Mengenai lembaga internasional lain, dia mengatakan, paling lambat November sudah bisa diumumkan lembaga internasional lain yang akan memberikan bantuan karena saat ini, sedang dalam persiapan.

Wayan mengakui, ada kelemahan-kelemahan dalam program ini tetapi kelemahan itu akan menjadi bagian dari masukan untuk melakukan perbaikan menuju kesempurnaan.

"Prinsip saya, rakyat sebagai pemilik kedaulatan negara ini tidak boleh terus diberikan ampas atau hanya mendapat percikan dari sebuah proses pembangunan. Rakyat berhak mendapatkan apa yang harus mereka dapatkan," tambah Gubernur Frans Lebu Raya yang adalah mantan pendiri dan direktur Yayasan Masyarakat Sejahtera ini. 
(T.B017/B013)