Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Menteri Pertanian (Mentan) RI Suswono bersama Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah, staf khusus Mentan Syamsu Hilal dan sejumlah tenaga ahlinya serta para direktur lingkup Deptan, melakukan panen bawang di Muntea, Bantaeng.

Bawang jenis super philipi di areal satu hektare Kawasan Balai Benih Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng tersebut merupakan hasil pemurnian untuk benih sumber yang menghasilkan bawang merah berkualitas.

Panen perdana bawang yang bibit awalnya dari Philipina itu memproduksi 11 ton. Mentan Suswono berharap, benih sumber yang dikembangkan LM3 terus dikembangkan dan menjadi produk terkemuka pertanian bawang Bantaeng, Selasa.

Selain melakukan panen, Mentan disaksikan Bupati dan pejabat lainnya menyerahkan bantuan sarana dan prasarana pertanian untuk kelompok tani di daerah berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini.

Bantuan bernilai Rp10,76 miliar tersebut masing-masing diserahkan kepada Kelompok Tani Mattiro Baji Desa Batu Karaeng, Kecamatan Pa'jukukang senilai Rp 15 juta dalam bentuk traktor roda dua.

Kelompok tani Jaya Desa Pa'jukukang memperoleh bantuan senilai Rp350 juta untuk Uppo. Selain itu, diserahkan pula bantuan irigasi permukaan senilai Rp50 juta kepada Kelompok Tani Pasanggarang I Kelurahan Tanah Loe, Kecamatan Gantarangkeke.

Bantuan PUAP berupa SLPTT padi hibrida senilai Rp100 juta untuk gabungan kelompok tani Sipakainga Desa Kayu Loe Kecamatan Bantaeng dan bantuan SLPTT jagung hibrida kepada Kelompok Tani Erasayya I DEsa Bonto Tiro, Kecamatan Sinoa.

Usai menyerahkan bantuan, Mentan Suswono melakukan temu wicara dengan kelompok tani yang dipandu Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah di kawasan agrowisata Muntea, Desa Bontolojong, Kecamatan Ulu Ere.

Para petani umumnya mengeluhkan sulitnya lantai jemur sehingga badan jalan sering menjadi sasaran sebagai tempat menjemur padi.

Ini sangat dirasakan, terutama sejak Bupati HM Nurdin Abdullah memimpin Bantaeng dengan peningkatan produksi beras yang mencapai rata-rata dua kali lipat, terang Bachtiar Talli, petani dari Pa'jukukang.

Mengenai kendala benih yang dulu sering terlambat, termasuk pupuk, juga telah berhasil diatasi berkat penangkaran yang dilakukan kelompok-kelompok tani. Meski begitu, Bachtiar berharap, petani masih perlu mendapat pendampingan dari penyuluh.

Harapan yang sama juga dikemukakan Abd Kadir, Ketua Kelompok Tani Pocci Buttayya Desa Bonto Rannu, Kecamatan Ulu Ere. Menurutnya, pendampingan dari Sarbina masih diperlukan.

Selain itu, terang Abd Kadir, diperlukan gudang untuk menampung produksi petani agar kualitas produksi tidak turun serta perlu penguatan modal dan pembentukan Sanggar Tani.

Menanggapi hal itu, Mentan berjanji akan mengupayakan untuk peningkatan kualitas produksi. "Jangan menjemur di jalan karena itu milik umum," ucapnya.

Menurut Menteri, untuk pemasaran produksi, selama ini Kementerian Pertanian telah melakukan pasar tani setiap hari Jumat. Melalui pasar ini, tidak ada mata rantai dan tata niaga.

Ini juga bisa dilakukan. Kalau bisa anjungan Pantai Losari dipenuhi produksi daerah setiap hari tertentu agar masyarakat bisa datang membeli kebutuhan.

Ia juga menyambut baik penangkaran benih lokal. Ia berharap, pada musim tanam Oktober tidak ada lagi petani yang terlambat. "Segera laporkan bila benihnya belum ada, demikian pula dengan pupuk yang selama ini sering terhambat di pelabuhan, kini sudah diminta ke Menteri Perhubungan agar diberi prioritas," ujarnya.

Sedangkan mengenai tenaga penyuluh atau pendamping, Mentan berjanji akan menganggarkan kembali. 
(T.KR-HK/F003)