Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Menteri Pertanian RI Suswono merasa heran bila masih ada perbankan yang memberlakukan agunan untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"Kok masih dimintai agunan, kan itu untuk rakyat," katanya pada temu wicara dengan kelompok tani di Kabupaten Bantaeng.
Mentan pada temu wicara yang dipandu Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah di kawasan agrowisata Muntea, Desa Bontolojong Kecamatan Ulu Ere, Selasa, menyebut sejumlah fasilitas yang dapat dilakukan untuk penguatan modal bagi petani.
Namun, saat Mentan menanyakan modal dari KUR dengan nilai maksimal Rp20 juta tanpa agunan, para petani serentak menjawab masih kesulitan agunan. Karena itu, ia minta kepada petani yang mendapat perlakuan perbankan seperti itu agar mencatat nama banknya kemudian melaporkan kepada Kementerian Pertanian melalui SMS Center 0813 8303 4444.
"Inikan harapan Presiden untuk mencapai surplus beras 10 juta ton pada 2014 serta upaya diversifikasi pangan agar tak hanya beras dan jagung tetapi juga ada sumber pangan lain seperti talas yang dikembangkan di Kabupaten Bantaeng," ucapnya.
Selain itu, produksi petani juga diharapkan berdaya saing ekspor dan tidak lagi dijual dalam bentuk gelondongan tetapi sudah diproses dan menjadi produk akhir dan bila perlu dikemas dengan baik agar harganya juga meningkat.
Ini merupakan target untuk meningkatkan pendapatan petani, urainya. "Karena ini target, maka harus dilakukan," tuturnya lagi seraya mengemukakan pentingnya kerjasama antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
"Kita saling membagi tugas agar target tersebut bisa diwujudkan, terutama pangan sebab tahun 2050 diperkirakan jumlah penduduk dunia mencapai sembilan miliar. Dengan jumlah tersebut dibutuhkan pangan yang diprediksi meningkat 70 persen dibanding sekarang," ucap Mentan Suswono.
Untuk mencapai itu, kendalanya juga berat, termasuk masalah perubahan iklim. "Mungkin di Bantaeng tidak terasa karena daerahnya subur, tetapi di Afrika setiap hari orang mati karena kelaparan. Ini sangat ironi, bila kita tidak bisa menolong sebab mereka juga manusia. Jadi, kita tak hanya berfikir untuk Indonesia tapi juga turut membantu pangan negara lain," urainya.
Karena itulah, ia memberi keyakinan bahwa pertanian itu menjanjikan. Harga pangan akan terus meningkat seiring dengan besarnya kebutuhan dan pada saat itu, petani akan semakin sejahtera sebab kita butuh dan yang terpenting barangnya tersedia.
Mentan Suswono kemudian mengapresiasi Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah yang dinilai sangat bersemangat dan peduli dalam meningkatkan sektor pertanian di wilayahnya. "Saya yakin, bila kita sungguh-sungguh, Allah memberi jalan. Asal kita bersungguh-sungguh pasti ada jalannya karena itu manfaatkan lahan yang menganggur. Jangan dibiarkan karena potensi kita tidak sama dengan daerah lainnya yang ada saatnya tidak bisa menanam apa-apa,"ujarnya.
Presiden sangat memperhatikan kebutuhan petani. Mulai dari sisi permodalan disiapkan PUAP dan di Bantaeng sudah hampir semua desa memanfaatkan. "Bila kurang, bisa mengakses program tambahan permodalan, termasuk KUR. Makanya saya heran bila masih ada Perbankan yang memberlakukan agunan untuk jenis kredit ini," ucapnya.
"Kalau petani memiliki agunan, lebih baik menggunakan kredit ketahanan pangan yang bunganya rendah hanya enam persen," urai Mentan yang mengatakan, semua ini dilakukan pemerintah untuk percepatan pembangunan pertanian.
Kalau petani kuat, nilai tawarnya juga kian baik. Karena itu, Pemda hendaknya selalu memberi dukungan terutama menciptakan pasar agar produksi petani bisa terjual. Jangan hanya memproduksi tapi sulit dipasarkan, pintanya.
Bupati Nurdin Abdullah menyambut gembira atas kedatangan Mentan di Kabupaten berjuluk Butta Toa ini.
"Sudah lama dinantikan, namun baru kali ini berkesempatan," terang Nurdin Abdullah seraya memperkenalkan daerah yang pernah menjadi Afdeling dan membawahi sejumlah kabupaten di selatan Sulsel ini.
Kabupaten terkecil di Sulsel ini terdiri atas tiga klaster masing-masing pesisir, dataran rendah dan dataran tinggi.
Masing-masing wilayah memiliki potensi sendiri-sendiri. Wilayah pesisir dengan pengembangan rumput laut, dataran rendah dengan pengembangan hortikultura dataran rendah dan padi-padian serta dataran tinggi yang tak hanya hortikultura dataran tinggi tetapi juga dikembangkan appel dan strowberi.
Kehadiran komoditi tersebut sekaligus memantapkan daerah pegunungan sebagai kawasan agrowisata yang dapat meningkatkan penghasilan petani.
Komoditi andalan lainnya adalah talas safira yang industrinya sudah siap. Hanya saja belum seiring dengan produksi petani yang hanya 400 kg/hari sementara kebutuhan industri mencapai 10 ton/hari.
Bupati HM Nurdin Abdullah berharap pengembangan pangan alterntif yang berbasis ekspor dapat mengatasi kendala bibit dengan membangun kultur jaringan.
Ini beralasan sebab kebutuhan pasar talas mencapai 360 ribu ton/tahun dengan harga yang tidak terpengaruh dengan gejolak mata uang asing. Berapapun produksi talas petani, harga tetap Rp 5000/kg.
Sedang untuk areal pertanian yang terbatas hanya 7.000 Ha, sejak dua tahun terakhir, Pemda bertekad menjadikan daerah berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini menjadi Kabupaten Benih Berbasis Teknologi.
"Kami ingin menjadi sumber benih," kata Bupati yang mengatakan sudah memproduksi 20 varietas termasuk hibrida, sedang untuk jagung, kini sudah dikembangkan jenis Bima 3 yang sudah dipasarkan ke NTB, Sulawesi Tenggara dan sebagian Jawa Timur serta beberapa provinsi lainnya.
Pemda juga mengembangkan benih yang dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing seperti untuk wilayah pesisir diberi benih banyu asin, urainya. (T.KR-HK/F003)
Mentan Heran Ada Bank Minta Agunan KUR
COPYRIGHT © 2011
Baca Juga
- Bupati : Jaga Bantaeng Tetap Konduksif
- Kemenkop Siapkan Bantuan untuk Koperasi Bantaeng
- 50 Pejabat Ikut Bimtek Anjab dan ABK
- Enam Kios Terbakar di Pasar Baru Bantaeng
- Jenazah TKI dari Malaysia Dimakamkan di Bantaeng
- Pasar Baru Bantaeng Terbakar
- Bantaeng Siapkan Puluhan Produk untuk Kabupaten Expo
- 15 Dokter Interensip Magang di Bantaeng

















