Berita Terkait
Makassar (ANTARA News) - Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) Suprapto mengatakan, sedimen lumpur di Bendungan Bili Bili Kabupaten Gowa telah mendesak untuk dilakukan pengerukan.

"Mendesak karena Bendungan Bili-Bili sudah dimasuki sedimen Gunung Bawakaraeng, sejak longsor. Kalau tidak dikeruk, ada ancaman pintu pengambilan bisa tersumbat," ujarnya di Makassar, Senin.

Ia mengatakan, pengadaan kapal pengeruk dan perlengkapan untuk melakukan pengerukan telah masuk dalam Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA) APBN 2011 senilai kurang lebih Rp80 miliar.

"Tahun ini sudah masuk DIPA, tinggal menunggu proses pengadaan jasanya melalui tender penyedia jasa. Setelah tender dan perlengkapannya diperoleh baru kita memulai operasi di Bili-Bili," katanya yang menambahkan seluruh proses tender ditangani oleh pusat.

Rencana pengoperasian kapal keruk untuk mengangkat sedimen lumpur di dasar Bendungan Bili Bili pernah diungkapkan pada Desember 2009.

Saat itu, dana pengoperasian kapal diharapkan bersumber dari bantuan pemerintah Jepang yang saat ini dalam tahap pembicaraan.

Longsor Gunung Bawakaraeng di daerah aliran sungai (DAS) Jeneberang Kabupaten Gowa sempat menyebabkan lima Sabo Dam tidak berfungsi maksimal sebab telah dipenuhi lumpur yang terbawa air.

Untuk memperlambat efek sedimentasi yang lebih parah pemerintah melakukan pengerukan pasir dari bantaran Sungai Jeneberang. (T.KR-RY/S016) 

Editor: Daniel
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasulsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar