GOS Tingkatkan  Populasi Sapi Sulsel
Syarifuddin May (FOTO ANTARA)
Makassar (ANTARA News) - Program Gerakan Optimalisasi Sapi (GOS) yang dicanangkan pemerintah provinsi Sulawesi Selatan membuahkan hasil cukup signifikan terhadap tingkat populasi sapi di provinsi ini.

Dalam dua tahun sejak program GOS dicanangkan Gubernur Syahryul Yasin Limpo, tingkat populasi sapi di provinsi ini meningkat signifikan rata-rata 200.000 ekor pertahun dari populasi saat itu 600.000 ekor.

Tingkat pertumbuhan populasi sapi Sulsel 2011 telah mencapai satu juta ekor atau lebih cepat dari target 2012, kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel Murtala Ali.

"Awalnya kita menargetkan populasi sapi Sulsel satu juta ekor pada 2013, namun dengan program GOS ternyata tingkat pertumbuhan ternak sapi di daerah sentra produksi meningkat tajam dari yang diprogramkan pemerintah," ujarnya.

Sulawesi Selatan menargetkan penambahan populasi sapi 200 ribu ekor per tahun mulai 2012 untuk mencapai tiga juta ekor sapi pada 2015.  

Target tersebut merupakan hasil penghitungan dari populasi induk dan bibit sapi yang tersebar di 24 kabupaten dan kota, sehingga target populasi satu ekor sapi telah tercapai pada Oktober 2011 atau lebih cepat dari perkiraan sebelumnya yang ditargetkan pada 2013.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel menyebutkan, dari satu juta ekor sapi tersebut, 68 persen diantaranya merupakan sapi betina, namun tidak semuanya siap dibuahi karena ada yang katagori induk, dara dan bibit.

Setelah dilakukan penghitungan lanjutan bersama ahli peternakan, maka didapatkan sebanyak 42 persen induk dan 68 persen bibit ke induk yang dapat dikembangkan untuk mencapai target dua juta ekor sapi dengan tingkat produksi 200 ribu per tahun.

Daerah sentra produksi ternak Sulsel yakni Kabupaten Barru, Bone, Maros, Enrekang, Wajo, Soppeng, Sinjai, Luwu, Bulukumba, Gowa, Takalar, Bantaeng dan Pinrang.


Inseminasi buatan


Tingkat keberhasilan teknologi inseminasi buatan (IB) di Sulsel mencapai 80 persen yang didukung 650 inseminator yang telah dilatih di sejumlah kabupaten, terutama daerah sentra produksi .

Upaya lainnya yang dilakukan untuk mencapai target tersebut adalah pengendalian penyakit dengan pemberian vaksin untuk mengantisipasi penyakit antraks.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengeluarkan larangan pemotongan sapi betina untuk meningkatkan produksi dengan cara memberikan insentif pada peternak dengan cara pembelian sapi betina produktif.

Seiring dengan pertumbuhan populasi sapi di Sulsel, maka pemerintah provinsi telah mengajukan anggaran Rp5 miliar untuk pembangunan rumah potong hewan (RPH) berstandar internasional di Kota Parepare yang diharapkan terealisasi pada 2012.

Kendati tingkat pertumnbuhan ternak di Sulsel yang cukup signifikan dan siap ekspor, namum pemerintah pusat hingga kini belum membuka kran ekspor sebelum swasembada ternak sapi dan kerbau nasional pada 2014.

"Kita siap mengekspor daging ke Malaysia, namun mereka meminta sapi dan kerbau hidup, sehingga keinginan itu belum memungkinkan karena kran eksor belum dibuka pemerintah, "ujar Syahrul.

Pemerintah Malaysia ingin mengimpor sapi dan kerbau dari Sulsel untuk mereka kembangkan dalam kawaan perkebunan kelapa sawit.

Sulsel menempati peringkat ketiga persediaan bibit sapi nasional setelah Jatim dan Jateng yakni sebanyak 55 ribu ekor. Begitu pula dengan tingkat populasi Jatim 3,5 juta ekor dan Jateng 1,5 juta ekor .

Sebagai penghasil bibit nasional, Sulsel juga telah mengirim bibit sapi ke sejumlah daerah antara lain Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat kurang lebih 5.000 ekor dari 100 ribu bibit sapi yang disiapkan, ujar Murtala Ali. (T.S016/Z003)