ATBM Kiat Sulsel Lestarikan Kain Sutera
Syarifuddin May (FOTO ANTARA)
Makassar (ANTARA News) - Bunyi sentakan "balida" atau alat tenun terbuat dari kayu berbentuk lancip bertalu-talu terdengar dari deretan rumah di kampung sutera Sempange kabupaten Wajo menjadi pemandangan menarik yang dapat dijumpai setiap hari.

Puluhan wanita di kampung itu menekuni pekerjaan sebagai penenun kain sutera dengan alat sederhana menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk menghasilkan kain khas sutera Sengkang yang menjadi salah satu komoditas unggulan Sulawesi Selatan.

Dari deretan rumah panggung yang tertata apik itu terdengar nyaring rentetan bunyi sentakan balida bagaikan irama musik yang menggoda pada saat wanita tua dan muda di kampung Sempange menenun kain sutera.

Indo Upe, salah satu penenun kain sutera di kampung itu menuturkan, setiap penenun menghasilkan satu kain sutera dalam waktu 25 hingga 30 hari.

Pekerjaan ini mereka tekuni sebagai tambahan penghasilan suami yang umumnya bekerja sebagai nelayan ikan air tawar di Danau Tempe dan menjualnya seharga Rp200 ribu hingga p400.000/lembar, tergantung motif dan kualitasnya.

Harga kain sutera di sentra produksi sutera alam Wajo tergantung motif dan coraknya. "Jika ada pesanan khusus corak tertentu harganya lebih mahal dibanding motif biasa," ujar Upe.

Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru mengatakan, kampung Sutera Sempange adalah salah satu kawasan objek wisata unggulan daerah itu yang telah ada sejak lama dan warga setempat telah menekuni pekerjaan sebagai perajin tenun kain sutera secara turun-temurun.

Perajin di kampung sutera itu dibina oleh salah seorang mengusaha setempat H Zikir, sehingga ada jaminan pasar semua produk hasil tenunan kain sutera warga setempat.

Kampung Sempange dengan ciri khas objek wisata sentra produksi kain sutera kini telah tertata rapi menyambut tahun kunjungan wisata Sulsel (Visit South Sulawesi) 2012, disamping wisata berburu rusa dan festival Danau Tempe, ujar Burhanuddin Unru.

Selain Wajo yang ditetapkan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai daerah tujuan wisata pada tahun kunjungan 2012, ada empat daerah lainnya yakni Makassar, Tana Toraja, Maros dan Bulukumba.


Bantuan gratis


Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu?'ang mengatakan, Pemprov Sulsel membangkitkan kembali industri sutera alam di Kabupaten Wajo dan Soppeng yang selama ini jadi pusat pengembangan sutera alam, namun saat ini kurang maksimal.


"Kita akan terus berupaya meningkatkan mutu kokon dan tanaman murbei untuk menghasilkan benang berkualitas agar tidak kalah bersaing dengan benang sutera impor asal China, "ujar Agus.

Itu disebabkan karena petani selama ini hanya mengandalkan telur dan murbei lokal yang produktivitasnya jauh dibawah bibit impor.

Petani juga tidak mendapatkan penyuluhan terkait pengembangan sutera alam. Akibatnya, terjadi penurunan produksi sutera alam Sulsel dalam satu dasawarsa terakhir disebabkan kualitas murbei dan telur yang rendah. 

Karena itu, dibutuhkan pembenahan mulai pada hulu yakni petani murbei hingga hilir yakni perajin benang sutera.  

Pemprov Sulsel telah memberikan stimulus kepada petani berupa pemberian telur gratis sebanyak 5.000 boks sejak awal 2011.

Telur yang disalurkan merupakan salah satu langkah untuk menjadikan Sulsel sebagai sentra pengembangan sutera nasional dengan perkiraan produksi 600 ton per tahun. Saat ini hampir 50 persen produk sutera nasional dipasok dari Sulsel, ungkap Agus.

Untuk mewujudkan sasaran tersebut, diperlukan perluasan lahan tanaman murbei hingga 10.000 hekatare dengan kebutuhan telur 240.000 boks/tahun menghasil kokon 4.200 ton dan produksi benang 600 ton/tahun.

Peningkatan produksi dan kualitas akan menggairahkan petani dan perajin dalam pengembangan sutera, menyusul membaiknya harga sutera saat ini berada pada kisaran Rp650.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp180.000/kilogram.

Untuk satu hektar lahan tanaman murbei petani akan mendapatkan penghasilan Rp2,3 juta hanya dalam waktu 36 hari sejak masa tanam.

Kepala Dinas Kehutanan Sulsel, Syukri Mattinetta menyatakan, pihaknya telah memberikan stimulus kepada petani berupa kokon gratis melalui dana APBD 2011 dari sebelumnya sebesar Rp900 juta.

"Kami akan terus mengawal pengembangan sutera dan mengalokasikan anggaran dalam APBD perubahan untuk penyediaan telur gratis sebagai stimulus kepada petani untuk mencapai produksi benang sutera hingga 600 ton, "katanya.

Luas tanaman murbei di Sulsel sekitar 2.542 hektare tersebar pada dua daerah sentra produksi yakni Soppeng dan Wajo. Namun untuk mencapai target 10.000 hektare, maka juga dikembangkan dibeberapa daerah diantaranya Kabupaten Maros, Gowa, Luwu Timur, Luwu Utara, Enrekang, dan Tanah Toraja, kata Kadis Kehutanan Sulsel Syukri Mattinetta. (T.S016/B/Z003)