Gubernur Sulsel Syharul Yasin Limpo di Makassar, Senin, mengungkapkan hal tersebut terkait undangan Markas Besar (Mabes) TNI Angkatan Darat pada Selasa, 3 Januari 2012, terkait keberhasilan kerja sama peningkatan produktivitas pertanian Sulsel bersama Kodam VII Wirabuana.
"Tidak ada agenda secara khusus tapi mungkin Mabes TNI mau tanya, bagaimana cara saya melibatkan TNI dalam pertanian, mungkin itu yang harus saya siapkan," katanya.
Ia menjelaskan, pada 2011, Pemerintah Provinsi Sulsel mengalokasikan modal dalam bentuk bibit, pupuk dan lainnya senilai Rp6 miliar untuk pengelolaan lahan percontohan padi masing-masing 10 hektare di setiap Dandim, Komando Rayon Militer (Koramil) dan Badan Pembina Desa (Babinsa).
"Sekarang saya berharap bisa masuk ke 100 hektare. Mereka itu disiplin, itu yang paling penting. Modal yang disiapkan Rp16 miliar itu pasti akan berputar," katanya yang menambahkan, modal tersebut tidak hanya bersumber dari APBD tapi juga dari dana-dana dekonsentrasi.
Kedisiplinan, katanya, adalah menjadi pelajaran sangat berharga bagi masyarakat petani dalam kerja sama tersebut. Ia mencontohkan, saat lahan diserang hama ditandai dengan bendera kuning dan ketika serangan hama telah besar, lahan ditandai dengan bendera merah. Sistem pelaporan yang disajikan juga sangat rapih bahkan dibuat meter per meter.
"Hal ini berharga sekali untuk orang-orang sipil. Sebenarnya ini yang merangsang pertumbuhan," ujarnya menambahkan hal sama juga dirasakan pada kerja sama dengan kepolisian pada lahan jagung.
Hasil kerja sama juga semakin terasa bagi masyarakat karena lahan yang dikelola adalah lahan kelompok masyarakat.
Kerja sama ini, tambahnya, memberikan kontribusi yang sangat besar pada produktivitas pertanian. Paling tidak, kerja sama ini juga menutup peluang bagi tengkulak dan spekulan yang bermain di lapangan.(T.KR-RY/S016)

















