Mobil Nasional
MAKASSAR, SULSEL - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo (kanan) meninjau bengkel perakitan mobil nasional "Moko" di Kawasan Industri Makassar (KIMA), Makassar, Sulsel, Selasa (10/1). (FOTO ANTARA/Humas Pemprov Sulsel)
Makassar (ANTARA News) - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo menegaskan, bahwa pembuatan mobil nasional yang digagasnya dengan nama "Moko" bukan untuk jalan-jalan.

"Saya buat mobil (Moko) bukan untuk jalan-jalan, bukan buat pejabat, saya buat mobil untuk industri ekonomi kerakyatan," katanya di Makassar, Selasa.

Ia menjelaskan, inti dari "Moko" adalah untuk mendorong industri mobil nasional dan tidak mencari cari nama. "Pemerintah Provinsi Sulsel dalam kapasitas saya sebagai gubernur, menopang mobil nasional, siapapun yang punya nama," ujarnya.

Idealisme awalnya, lanjut dia, berawal dari kenyataan bahwa masyarakat Sulsel membeli mobil dan motor lebih 700 ribu dalam dua tahun terakhir dan tidak ada satupun yang merupakan buatan Indonesia.

"Itu intinya dan sudah berlangsung dari tahun lalu. Kalau orang baru ramai dengan Esemka, kita sudah dari tahun lalu bekerja sama dengan PT INKA (PT Industri Nasional Kereta Api) dan Universitas Hasanuddin dan sekarang kita bisa rakit sendiri," jelasnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan, kerja sama itu lebih khusus pada pembuatan rangka. Bahkan, menurutnya, anak-anak SMK dan STM yang sebelumnya mengikuti magang pada perakitan "Moko" juga sudah bisa membuat rangkanya sendiri.

"Cuma INKA jangan kita lupakan karena dasarnya disitu. Tapi sekarang jangan buat disana dong kalau bisa dibuat di sini kenapa tidak dibuat di sini," katanya.

Ia mengatakan, industri perakitan "Moko" saat ini dalam dalam tahap persiapan di Kawasan Industri Makassar (Kima). "Lusa saya akan tinjau lagi ke sana dan lihat sendiri apa kita main-main atau serius," ujarnya.

Terwujud atau tidaknya, lanjutnya, bukan persoalan utama. Yang pasti yang kini terus diupayakan adalah harga dari "Moko" dapat di bawah Rp50 juta.

"Kalau di atas Rp50 juta banyak, kalau masih tidak enak ya memang tapi semangat nasionalismenya harus ada, jadi semangat mobil nasional itu lahir dari kita," katanya.

Anggaran untuk mendorong terwujudnya industri "Moko" untuk sementara ini masih disuntik dari APBD. "Yang ada di pikiran saya itu mobil dibuat di Sulsel, di bengkel-bengkel di pinggir jalan bukan industri besar," ujarnya.

Ia optimistis, "Moko" akan memberikan energi besar bagi kebangkitan industri otomotif nasional, meski demikian ia juga tidak menampik terhadap kemungkinan kegagalan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulsel Irman Yasin Limpo, sebelumnya menjelaskan, "Moko" yang diproduksi PT Industri Nasional Kereta Api (INKA) dan Provinsi Sulsel diprioritaskan untuk membantu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan merupakan industri lokal berbasis idealisme.

Keutamaan dari produksi mobil nasional pertama ini adalah kebijakan yang kuat bahwa daerah dapat mengelola industri secanggih industri mobil.

Ditegaskannya, Moko bukan sebuah industri otomotif besar, namun baru sebuah industri kecil dengan bengkel perakitan. Tiga prototipe dari 50 unit produksi awal telah diluncurkan pada peringatan hari jadi Provinsi Sulsel ke-342, 19 Oktober 2011, masing-masing berkapasitas 650 cc dengan kisaran harga Rp50 juta. Produksi awal sebanyak 50 unit dengan anggaran Rp18,2 miliar dan Rp3 miliar diantaranya dianggarkan pada APBD Provinsi Sulsel.(T.KR-RY/S006)