Kupang (ANTARA News) - Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Rofinus Mbon mengatakan, kerusakan bangunan akibat gempa pada 21 Januari 2012, masih dalam pendataan.

"Jumlah pastinya belum bisa kita sampaikan karena para petugas masih terus melakukan pendataan di lapangan. Pendataan memang agak terhambat karena hujan disertai angin terus mengguyur wilayah itu," kata Rofinus Mbon, Rabu.

Rofinus dihubungi ANTARA melalui telepon genggam dari Kupang, terkait kerusakan bangunan sebagai dampak dari guncangan gempa berkekuatan 6,3 Skala Richter yang terjadi di wilayah itu pada Sabtu (21/1).

Menurut dia, guncangan gempa terasa sangat keras di seluruh Kota Labuan Bajo dan sekitarnya, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa.

Hanya bangunan milik pemerintah, rumah ibadah dan rumah-rumah penduduk yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa, katanya.

"Tidak ada bangunan yang mengalami kerusakan total. Hanya retak-retak saja, tetapi jumlah keseluruhan dan kerugian akibat gempa itu masih dalam tahapan penghitungan oleh petugas," kata Rofinus Mbon yang mengaku baru selesai menggelar rapat bersama Bupati Manggarai Barat untuk membahas masalah ini.

Gempa berkekuatan 6,3 SR tersebut terjadi pada Sabtu (21/1) pukul 03:32:54 WIB dengan pusat gempa di dasar laut pada kedalaman 124 km dengan koordinat 8.84 LS ¿ 119.60 BT (48 km Barat Daya Manggarai Barat-NTT).

Intensitas gempa antara III-IV MMI atau sedang, dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami, namun dirasakan cukup kuat guncangannya dengan durasi sekitar tiga detik.

Selang dua jam kemudian terjadi lagi gempa bumi berkekuatan 5,7 SR pada pukul 05:50:52 WIB di Sangihe. Pusat gempa di dasar laut kedalaman 10 km di posisi 4.67 LU ¿ 125.18 BT (128 km Barat Laut Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. (T.B017/E001) 

Editor: Daniel
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasulsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar