Palu (ANTARA News) - Anggota Komisi II DPRD Sulawesi Tengah Asgar Djuhaepa menengarai masih maraknya aktivitas penyelundupan ebony (kayu hitam) dari Sulawesi Tengah ke Malaysia.

"Ini saya tahu setelah teman-teman pengusaha dari Italia, Taiwan, dan Jepang menghubungi saya. Mereka saat ini membeli ebony dari Malaysia," kata Asgar di Palu, Jumat.

Mantan pengusaha eksportir kayu hitam itu mengatakan, sejumlah rekannya di Italia, Jepang dan Taiwan kaget setelah mendapat pasokan ebony dari Malaysia. Sementara Malaysia kata Asgar, bukan negara penghasil ebony.

"Pertanyaannya dari mana kayu itu, sementara penghasil kayu ebony di dunia itu hanya Sulawesi Tengah. Ini artinya penyelundupan ebony dari Sulawesi Tengah masih marak," kata Asgar.

Dia mengatakan, yang mengherankan justru perusahaan di Italia, mendapat suplai ebony dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Sementara daerah itu juga bukan penghasil kayu ebony.

Asgar menduga kayu yang diselundupkan tersebut berasal dari sisa hasil tebangan perusahaan pemegang hak pengelolaan hutan (HPH) tahun 1980-an dan 1990-an.

Sisa hasil tebangan tersebut saat ini masih ribuan kubik tersebar di dalam hutan dan tertimbun di laut.

Perusahaan Daerah Sulawesi Tengah pada tahun 2009 dan 2010 pernah diberi kewenangan oleh Kementerian Kehutanan untuk memanfaatkan kayu sisa hasil tebangan tersebut untuk kebutuhan industri dalam negeri dan ekspor.

Tetapi kata Asgar, masih tersisa ribuan kubik yang belum diolah oleh Perusahaan Daerah dan dikeluarkan dari dalam hutan.

Asgar mengatakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah perlu mengambil langkah-langkah strategis agar kayu ebony tersebut bisa diselamatkan.

"Misalnya bagaimana perusahaan daerah direstrukturisasi lalu diberikan kembali kewenangan untuk mengelola kayu ebony itu," kata Asgar.

Dia mengatakan pemerintah setidaknya bisa mengambil langkah-langkah untuk menggudangkan kayu ebony sisa hasil tebangan yang masih tersimpan di hutan.

"Kalau ini dibiarkan terus menerus maka kita akan terus mengalami kerugian," kata Asgar.

Saat ini saja kata dia, negara sudah dirugikan akibat penyelundupan kayu andalan Sulawesi Tengah itu.

Asgar mengatakan harga ebony di Italia saat ini berkisar 4.500 dolar AS per meter kubik. Untuk ebony kualitas tertentu mencapai 6.000 dolar AS per meter kubik.

Menurut Asgar pada 2003 lalu dirinya masih mengeskpor ebony ke Italia dengan kisaran harga 4.500 dolar AS per meter kubik.

Sementara harga lokal berkisar Rp10 juta sampai dengan Rp15 juta per meter kubik.

"Dulu saya ekspor dalam kondisi empat sisi mulus. Dulu belum ada batasan ukuran, yang penting mulus sudah boleh diekspor. Sekarang empat sisinya maksimal 4000 milimeter per batang," kata Asgar.

Dia mengatakan, sekali kirim rata-rata tiga kontainer. Dalam satu kontainer berisi 12 meter kubik.

Dia mengatakan ebony di Italia digunakan sebagai pelapis furnitur seperti lemari dan pintu, sementara di Jepang dan Taiwan digunakan sebagai aksesoris tempat peribadatan. (T.A055/Y008)