Makassar (ANTARA News) - DPRD Makassar menilai PT Pertamina Pemasaran Retail Region VII Makassar, Sulawesi Selatan tidak becus dalam mengatisipasi kelangkaan Lif Petrolium Gas (LPG/Elpiji) tiga kilogram di masyarakat.  

"Ini sudah tidak wajar, gas sulit sekali didapat, Pertamina tidak becus dalam mengantispasi kelangkaan gas, jelas itu merugikan masyarakat," tegas Ketua Komisi B DPRD Makassar, Irwan ST, disela sidak di tingkat agen di Makassar, Rabu.

Kurangnya stok gas elpiji tiga kilogram yang didistribusi Pertamina sehingga memicu kenaikan hingga 90 persen ditingkat pengecer adalah kesalahan Pertamina yang tidak melakukan langkah antisipasi sejak awal mengakibatkan masyarakat mengeluh dan dimainkan di tingkat pengecer.

"Banyak masyarakat mengeluh dengan kenaikan harga ditingkat pengecer hingga menembus harga Rp25 ribu per tabung, ini perlu disikapi secara serius," katanya.

Kendati Pertamina telah melakukan distribusi gas ditingkat agen dengan beralasan bahwa keterlambatan pasokan terjadi akibat kapal pengangkut gas mogok di perairan Kalimantan, lanjutnya, itu merupakan kesalahan pertamina yang tidak profesional.

"Seharusnya Pertamina mengumumkan secara terbuka dan melakukan penyampaian kepada masyarakat dan para agen sehingga masyarakat tidak panik dan harga tidak dimainkan pengecer," katanya.
Irwan menyebutkan, hasil pantauan hari ini akan diteruskan dalam rapat dengar pendapat antara PT Pertamina dan Pemkot pada Kamis (23/2), besok.

"Nantinya pertemuan itu disenergikan Pemkot dan Pertamina agar ke depan kelangkaan dan kenaikan harga dapat diantisipasi," tambahnya.

Salah satu agen gas PT Cahaya Surya Setia, Feffry Tungka di Kecamatan Mariso Makassar menyatakan, pasokan gas tiap hari yang masuk mencapai 1.120 tabung atau sebanding dua truk.

"Pasokan lancar dari Pertamina, dalam beberapa hari ini ada penambahan sampai 560 tabung atau sebanyak empat truk untuk menambah kekurangan. Saya rasa itu hanya kepanikan masyarakat," belanya.  

Perusahaan kata dia, telah memasok gas elpiji tiga kilogram ke 63 pangkalan penyalur atau pengecer di seputar Makassar, meskipun ada jeda dua hari, karena pihaknya berusaha membagi secara merata pasokan ke semua pangkalan.

Terkait dengan adanya kenaikan hingga mencapai 90 persen, lanjut Jeffry, hal itu bisa saja terjadi lantaran pengecer mencari keuntungan dari kondisi yang ada. Mengenai harga sebenarnya, aku dia, dari harga pangkalan ditetapkan Rp11.825 ribu per tabung dan ditingkat pengecer harga tertinggi mencapai Rp12.750 ribu.

"Kalau sampai Rp20.000 ke atas, itu tandanya sudah tidak sehat lagi," ucapnya. (T.KR-DF/F003)