Makassar (ANTARA News) - Tim penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menemukan adanya penyimpangan dalam proses pembayaran yang tidak sesuai dengan volume pekerjaan pada proyek pemeliharaan Bandara Sultan Hasanuddin.

"Sudah diperoleh bukti awal adanya penyimpangan yang dimana pada pembangunan tersebut telah dibayarkan seratus persen namun pada kenyataannya di lapangan pekerjaannya belum diselesaikan 100 persen," tegas Asisten Pidana Khusus Kejati Sulselbar, Chaerul Amir di Makassar, Rabu.

Ia mengatakan, proyek dugaan kasus korupsi pemeliharaan taman Bandara Internasional Sultan Hasanuddin itu ditaksir telah merugikan negara karena proyek itu dianggarkan dengan nilai Rp1,5 miliar.

Namun mengenai hasil pastinya, pihaknya juga akan mencocokkannya dengan audit Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Sulsel.

"Baru kita perkirakan ada ratusan juta rupiah, tapi itu hanya untuk satu pekerjaan dan itu di periode tahun 2010 dan tahun 2011," katanya.

Ia menyatakan, pekerjaan yang dilakukan oleh salah satu pengelola bandara yang menjadi kontraktor itu dinyatakan telah rampung 100 persen sedangkan hasil temuan di lapangan jika proyek itu baru selesai sekitar 60 persen.

Diketahui, pemeliharaan pekerjaan di luar gedung bandara baru milik masyarakat Sulsel ini dimulai sejak 2005 sampai sekarang.

Selain proyek pemeliharaan gedung yang diusut, kejaksaan juga tengah menelusuri serta memonitoring dugaan penyelewengan dana pengadaan dan perawatan Air Traffic Control (ATC) yang disinyalir ikut menimbulkan kerugian miliaran dari total anggaran Rp24 miliar 2005-2011.(T.KR-MH/Z003)

Editor: Daniel
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasulsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar