Makassar (ANTARA News) - Direktorat Reserse dan Kriminal (Ditreskrim) Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menggelar rekonstruksi perampasan senjata api milik siswa Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Batua Makassar yang dilakukan tiga orang pelaku.

"Setelah tertangkapnya satu dari tiga pelaku perampasan senjata api milik siswa SPN Batua ini, kami kemudian menggelar rekonstruksi untuk memberikan pendalaman kepada penyidik tentang modus serta motif dari perampasan itu," jelas Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Pol Endi Sutendi di Makassar, Selasa.

Ia mengatakan, dalam 28 adegan rekonstruksi itu, pelaku yang berjumlah tiga orang mulanya berkenalan dengan korban yakni Priadi Akbar Maelan di sekitar Pantai Losari Makassar samping Masjid Terapung Amirul Mukminin hingga berlanjut pada perampasan.

Dari tiga pelaku yang menjadi aktor perampasan itu, satu pelaku yang tertangkap yakni Timotius Palence. Timotius diketahui mantan anggota TNI yang telah desersi. Sedangkan dua pelaku lainnya yang berinisial N dan J itu masih menjadi buronan polisi.

"Dua rekan pelaku yang berinisial N dan J itu masih buron dan keduanya sudah dijadikan daftar pencarian orang (DPO). Keduanya masih terus dikejar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," katanya.

Mantan Kapolres Enrekang itu menyebutkan, pelaku yang beralamat di Perumahan Susun Kodam VII/Wirabuana berhasil diamankan petugas, pada Senin (7/1) sekitar pukul 18.00 WIB di Jalan Mawar 3 RT 07/ RW 05 Rempoa Bintaro, Kecematan Pesangrahan, Jakarta Selatan.

"Pasal yang ditetapkan adalah pasal pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang sebagaimana dimaksud dalam rumusan pasla 365 ayat 1 KUHP dengan ancaman paling lama sembilan tahun penjara," tegasnya.

Dalam rekonstruksi terungkap jika tersangka menculik korbannya yang tidak lain adalah siswa SPN Batua, Priyadi Akbar setelah sebelumnya menyamar menjadi ajudan pimpinan Brigade Mobil (Brimob). Dengan penyamarannya itu, dia berhasil mengajak korbannya ke dalam mobil yang sudah disiapkan terlebih dahulu.

Korban kemudian dikeluarkan dari mobil secara paksa tidak jauh dari SPN. Selain itu, senjata hasil rampasan tersebut diketahui sempat ditanam dalam tanah di sekitar lokasi kejadian. Setelah itu, tersangka melarikan diri ke Jakarta dengan membawa senjata itu.

Tiga pelaku, dua diantaranya masih DPO itu, juga diketahui sebagai residivis perampokan dengan sasaran ATM yang sedang diisi uang dari petugas bank. Namun membutuhkan senjata maka mereka sepakat untuk masuk ke SPN Batua untuk mengambil senjata Siswa yang sedang berjaga di Pos.

"Barang bukti yang berhasil disita yakni satu pucuk senjata api jenis Sabhara V2 dengan nomor seri ACF 006211 cal 7,62 MM," ujar Endi Sutendi. (T.KR-MH/F003)

Editor: Daniel
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasulsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar