Wali Kota Makassar Minta Polisi Usut Konflik Antar Mahasiswa

MAKASSAR - Pejalan kaki melintas di sekitar dua unit sepeda motor yang terbakar di depan Universitas Muslim Makassar (UMI), Makassar, Sulsel, Senin (22/4). (FOTO ANTARA/Dewi Fajriani)

Berita Terkait
Makassar (ANTARA Sulsel) - Wali Kota Makassar meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus konfik antar mahasiswa di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa berbuntut pembakaran tiga unit motor.

"Saya meminta polisi agar mengusut dan menangkap pelaku yang mengakibatkan terjadinya konflik horizontal yang diduga membawa etnis kedaerahan," kata Ilham saat pertemuan dengan pihak terkait di Balai Kota Makassar, Selasa.

Menurutnya, diketahui ada korban penikaman salah satu mahasiwa bernama Geis Setiawan sehingga mengakibatkan korban tewas belum lama ini, diduga menyulut aksi pembakaran dilakukan okum yang tidak bertanggungjawab, harus ditangani serius.

"Hal ini bisa menjadi konlflik horizontal yang mengatasnamakan etnis atau suku tertentu jika tak diatasi secara komprehensif, baik itu pihak universitas maupun kepolisian untuk segera menangkap dan mengungkap pelaku," paparnya.

Sebelumnya, tiga motor mahasiswa dibakar puluhan orang tak dikenal saat masuk di kampus UMI Makassar, Sulsel, Senin (22/4) sekira pukul 16.45 WITA. Hal itu diduga dipicu terkait kasus penikaman yang menewaskan seorang mahasiswa UMI asal Palopo, Geis Setiawan (21) pada Minggu (21/4).

Dalam pertemuan itu, Kapolrestabes Makassar, Komisaris Besar Polisi (Kombespol) Wisnu Sanjaya mengatakan, segera mencari dan melakukan penyelidikan terkait peristiwa tersebut.

Perwira polisi ini menyatakan agar semua pihak bisa menenangkan diri agar masalah tersebut tidak meluas dan menjadi konfik horizontal antar etnis Palopo dan Bone.

"Berikan kami waktu untuk menyelesaikan kasus ini. Saat ini kami telah melakukan serangkaian penyelidikan dan membentuk tim intelejen guna mengungkap kasus tersebut. Saya mengimbau kepada adik-adik mahasiswa supaya tidak mudah terprovokasi apalagi organisasi mahasiwa kedaerahan," ucapnya.

Sementara, Wakil Rektor UMI, Prof Ahmad Ganu mengakui, kasus konfilk antar mahasiswa ini merupakan bola panas yang menjadi pekerjaan serius oleh pihak kepolisian.

Dia mengungkapkan, dalam insiden itu, diduga ada persoalan dari luar kampus namun dibawa ke lingkungan kampus.

"Kebetulan saja mahasiswa yang tertikam itu adalah mahasiswa di UKM Mapala, tapi kok bisa dikaitkan dengan isu etnis dan lain sebagainya. Kami mempercayakan pengungkapan kasus ini ke pihak kepolisian. Baik itu etnis Polopo dan Bone supaya tidak terprovokasi dan tetap menahan diri," harapnya.

Perwakilan Mahasiswa Ikatan Pelajar Mahasiswa Luwu Raya (Ipmil) Sulsel, Said menuturkan, bahwa kejadian itu sangat disayangkan, bahkan dirinya mengkritisi Kapolsek Tamalanrea Kompol Amiruddin yang melakukan pengrebekan di Sekertariat Ipmil dan menangkap mahasiswa Palopo dan belum dilepas.

"Kapolsek Tamalate bilang saat pengrebekan itu tidak senang dengan mahasiswa Palopo, kami sangat terpukul dengan pernyataan itu. Bahkan mengrebek sekertariat kami dan Sekertariat Bone dijaga, ini tidak adil. Padahal kami menjadi korban dari pihak mahasiswa Palopo," ucapnya dalam forum.

Perwakilan mahasiswa Bone, Mawardi, juga mengaku hubungannya kepada mahasiswa Palopo baik-baik saja, dirinya menduga ada provokator yang sengaja memanaskan situasi sehingga masalah bisa kembali memanas dan meluas.

"Kami meminta kepada rekan-rekan Bone di Makassar agar menahan diri, karena pelakunya belum kita ketahui siapa dari daerah mana sebenarnya. Jadi tidak rasional kalau itu dikait-kaitkan dan bisa merusak hubungan antara kami dan mahasiswa Palopo," ungkapnya.

Editor : Agus Setiawan

Editor: Daniel
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasulsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar