Kupang, 1/12 (ANTARA) - Taman Laut Pulau Buaya di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami kehancuran yang cukup serius akibat aksi pemboman ikan yang dilakukan para nelayan yang mencari ikan dan biota laut lainnya di wilayah perairan sekitarnya.

"Ini sebuah aksi yang memilukan karena taman laut yang indah dan menjadi pesona wisata bawah laut di Kabupaten Alor sudah mulai rusak," kata Bupati Alor, Ans Takalapeta di Kupang, Senin, ketika menjelaskan tentang kebijakannya menyangkut Konservasi Kawasan Laut Daerah (KKLD).

Dalam upaya mengatasi masalah tersebut, kata dia, pihaknya membangun kerja sama dengan World Wide Fund (WWF) Indonesia serta WWF Denmark untuk meningkatkan keanekaragaman hayati di sekitar Selat Pantar yang kaya dengan objek wisata bawah laut itu.

Kabupaten Alor yang terdiri dari pulau-pulau kecil, menurut pengamatan WWF Indonesia dan Denmark, kaya dengan sumber daya alam dengan sebagian eksosistem terumbu karang di wilayah perairan yang telah ditetapkan menjadi KKLD masih terawat dengan baik sehingga menjadi pusat migrasi mamalia laut.

Di kawasan tersebut, kata Takalapeta, dalam setahun sekali mengalami peristiwa "up welling" yakni terjadinya arus dingin dari dasar laut ke permukaan sehingga membuat biota laut seperti ikan menggelepar karena tak mampu menahan arus dingin.

Dinas Perikanan Kabupaten Alor dalam laporannya menyebutkan, produksi perikanan di wilayah itu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Pada periode 2007, misalnya, produksi ikan di wilayah perairan Kabupaten Alor mencapai 20.336,7 ton atau mengalami kenaikkan yang cukup signifkan jika dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai 19.355,6 ton.

Guna mempertahankan produktifitas hasil perikanan di wilayah tersebut, kata Takalapeta, pihaknya bersama masyarakat Kabupaten Alor kemudian menetapkan Selat Pantar seluas 21.850 hektare menjadi kawasan taman laut (KTL).

Sejak 2002, Selat Pantar ditetapkan sebagai kawasan taman laut, namun pada 2006 kawasan taman laut tersebut diubah namanya menjadi Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) dengan luas sekitar 48.440 hektare.

Bupati Takalapeta mengatakan, mempertahankan keanekaragaman hayati merupakan pilihan yang signifikan untuk meningkatkan kualitas hidup warga yang berada di sekitar wilayah tersebut.

WWF melalui program konservasi kelautan, tambahnya, juga berkomitmen mendukung pengelolaan KKLD melalui skema pengelolaan kolaboratif yang dinilai sebagai salah satu komponen terbaik dalam praktek pengelolaan kawasan konservasi laut.

WWF yang memiliki anggota lebih dari lima juta orang dan memiliki jaringan kerja dengan 90 negara merupakan salah satu organisasi konservasi terbesar di dunia menghentikan kemudian memulihkan kerusakan lingkungan serta membantu terciptanya sebuah harmonisasi antara manusia dan alam lingkungannya.***6***
(T.L003/B/A027/A027) 01-12-2008 11:03:43





COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasulsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar