Kupang (ANTARA Sulsel) - Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur "NTT", merupakan fakultas yang mencatat biaya pendidikan termahal hingga Rp20 juta persemester yang harus disetor mahasiswa ke lembaga perguruan tinggi negeri ini.

"FK memang saat ini menjadi satu-satunya fakultas terhamal dalam lingkup Undana, bahkan fakultas termahal pada universitas/perguruan tinggi negeri dan swasta di NTT," kata Rektor Undana, Kupang, Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc.Ph.D di Kupang, Rabu.

Umbu Datta menyebut, mahalnya FK Undana jangan dilihat dari Rp20 juta yang dirinci menjadi Rp15 juta untuk kebutuhan perkuliahan dan Rp5 juta sumbangan pengembangan dan pembangunan, tetapi dari segi investasi masa depan jumlah tersebut terbilang kecil.

Ia mengatakan, jumlah tersebut tidak sepenuhnya menjadi tanggungan mahasiswa tersebut, tetapi ada sekitar 12 dari 50 mahasiswa fakulas kedokteran Undana saat ini mendapat subsidi dari pemerintah kabupaten (pemkab) dalam bentuk ikatan kuliah.

Di luar itu, kata Umbu Datta, pihak Undana melalui sponsor di antaranya Yayasan Supersemar, BNI, BRI, Bank Indonesia, Toyota Astra, dan Gudang Garam memberikan beasiswa bagi mahasiswa FK yang berprestasi secara akademik.

Menyinggung pemanfaatan dana pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, Umbu Datta mengatakan, pemanfaatannya disalurkan melalui mahasiswa tugas belajar, bantuan bagi mahasiswa untuk penyelesaian tugas akhir dan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi.

Ia menyebut, dari sekitar Rp200 triliun alokasi APBN untuk pendidikan, sekitar 50 persen untuk biaya pengembangan pendidikan dan fasilitas pendidikan dan 50 persennya untuk biaya oprasional, termasuk penelitian.

"Artinya dari Rp100 triliun itu, (50 persen dari Rp200 triliun), sekitar Rp65 triliun untuk pembangunan fasilitas atau sarana prasarana pendidikan dan Rp35 triliun untuk biaya pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, termasuk Undana Kupang," katanya.

Ia menegaskan kemajuan pembangunan dan pertumbuhan penduduk menjadi pemicu meningkatnya kebutuhan masyarakat akan kesehatan, khususnya sekitar 75 persen masyarakat Indinesia saat ini berdomisili di pedesaan, jauh dari jangkauan sarana-prasarana kesehatan seperti Puskesmas dan tenaga medis khusus tenaga dokter.

"Kondisi ini disebabkan tenaga medis/dokter yang sangat minim dan akses informasi dari masyarakat tentang kesehatan juga sangat minim sehingga Kejadian Luar Biasa (KLB) dan gizi buruk yang busung lapar, diare dan malaria yang sering terjadi di Indonesia termasuk di NTT tidak dapat dideteksi secara dini," katanya.

"Langkah strategik antisipasi yang dapat dilakukan mengatasi kondisi tersebut salah satunya adalah kehadiran lembaga pendidikan kedokteran di NTT merupakan kebutuhan prioritas dan mendesak," katanya menambahkan.

(T.PSO-084/R007)

COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasulsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar