Kupang (ANTARA Sulsel) - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki banyak potensi tanaman lokal lahan kering seperti jagung, umbi-umbian, padi, kacang-kacangan, namun hasilnya masih sebatas untuk kepentingan ketahanan pangan atau konsumtif belaka.

"Semua tanaman ini menyebar merata hampir di seluruh kabupaten di NTT walau masing-masing daerah memiliki kekhasan potensi sesuai kondisi agroklimat," kata dosen dan peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang-NTT, Ir Leta Rafael Levis, M.Si, di Kupang, Senin.

Leta Levis mengungkapkan hal ini seabgai salah satu bentuk refleksi bertepatan dengan hari Pangan pada hari ini, Senin, tanggal 12 Oktober tahun 2009.

Menurut Leta Levis, selain tanaman lokal lahan kering, daerah yang terkenal dengan semi arid ini juga cocok untuk penembangan tanaman hortikultura seperti pisang kapok, pisang beranga, pisang susu, pisang mas, kangkung, sawi hijau maupun putih, wortel, tomat, lombok, bawang putih, bawang merah, ketimun, labu jepang, labu siam, daun marungge, jeruk keprok SoE dan pepaya.

Tanaman-tanaman ini, katanya, dapat dijadikan sebagai sumber pangan seperti karbohidrat, protein, vitamin dan mineral untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat sebagai bagian mewujudkan ketahanan pangan masyarakat di daerah ini.

"Kebijakan pengembangan pangan lokal yang diprioritaskan oleh Pemerintah NTT saat ini, telah menciptakan peluang baru bagi kegiatan agribisnis tanaman lokal," katanya.

Ia menyebut kebutuhan konsumsi produk lokal meningkat dengan indikator semakin banyak permintaan semakin tinggi harganya.

Ia mencontoh, harga sebulir jagung bakar tahun lalu Rp1.500, tetapi saat ini menjadi Rp2.000, bahkan Rp2.500. Harga jeruk keprok SoE tahun lalu Rp12.000 sampai Rp15.000 per kilogram, tetapi sekarang Rp20.000 sampai dengan Rp23.000 per kilogram.

Harga ubi Nuabosi, katanya meningkat dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per ikat. Secara relatif, para pedagang memperoleh keuntungan.

Menurut Leta Levis, tingginya permintaan mengindikasikan bahwa atmosfir agribisnis pada komoditi lokal semakin baik. "Paling menarik adalah tumbuhnya industri 'perkuean' yang berbahan dasar tanaman lokal seperti jagung dan ubi," katanya.

Selain itu, kata Leta Levis, NTT sesungguhnya telah memiliki beberapa varietas lokal yang telah memiliki sertifikasi nasional dan telah menjadi varietas nasional seperti kacang hijau Belu, kacang merah Ineria dan pisang beranga Kelimutu di Kabupaten Ende, advokat Maumere di Kaupaen Sikka.

Padi lokal Kodi di Kabupaten Sumba Barat Daya, jagung Pit Kuning di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU), dan mangga kelapa Alor di Kabupaten Alor.

"Semua potensi yang ada telah dipetakan baik secara fisik maupun non fisik, namun belum fokus dikembangkan di NTT, karena sejumlah ketrbatasan diantaranya akses pasar dan mental para petani yang belum berpikir untuk menjadi petani yang berjiwa bisnis.

Sehingga kata Leta Levis menjadi tugas dan tanggungjawab semua komponen, terutama pemerintah sebagai perencana, pengenali program dan evaluasi serta pencapaian kinerja pembangunan dalam satu bidang tertentu demi kesejahteraan petani kususnya dan masyarakat NTT umumnya.

(T.PSO-084/A014)

COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasulsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar